Assalamualaikum sobat. Kali ini aku mau cerita tentang Waduk Tiu, salah satu spot wisata alam tengah kota yang ada di Cipayung, Jakarta Timur. Posisi waduk Tiu dekat dengan Bekasi kecamatan Pondok Melati. Dekat juga ke kecamatan Jatisampurna kota Bekasi. Jadi sobat yang tinggal di Kecamatan Jatisampurna dan Pondok Melati, bisa ke Waduk Tiu. Sebagai bagian dari Jakarta Timur, ada tiga waduk di Jakarta Timur yang dijadikan kawasan ekowisata. Yaitu waduk Setu, Waduk Rawa Dongkal, dan Waduk Tiu.
Bandarlampung adalah ibukota Provinsi Lampung. Provinsi Lampung adalah pintu ke pulau Sumatera dari Jawa. Terdiri dari 20 kecamatan dan 126 kelurahan, kota Bandar Lampung memiliki populasi sekitar 1,2 juta jiwa. Sebelumnya ibukota provinsi Lampung adalah Tanjung Karang. Sejak 1982, kota Tanjung Karang dan Teluk Betung dijadikan satu menjadi Bandar Lampung.
Melanjutkan part 1 ya Mom. Begitu kami memasuki MRT, ternyata sunyi. Iya juga sih, karena hari Minggu. Mengingat Jakarta saat itu sedang PPKM level 2 maka bisa dipastikan hari kerja juga sunyi.
Di dalam MRT ada beberapa hal yang wajib dipatuhi penumpang. Antara lain :
- Dilarang berbicara
- Dilarang bawa hewan peliharaan.
- Wajib mendahulukan penumpang yang keluar, baru kita masuk.
- Wajib memprioritaskan lansia, wanita hamil dan busui, juga anak kecil.
- Sepeda boleh masuk tapi khusus sepeda lipat
- Dilarang membawa makanan atau apapun berbau menyengat.
- Dilarang membawa benda berbahaya. Penumpang yang nekat bisa terdeteksi karena ada metal detektor di setiap stasiun MRT. Ada pengawasan polisi juga.
Sedangkan GBK itu, kepanjangan dari Gelora Bung Karno. Lalu apa itu MRT? MRT sebenarnya kepanjangan dari Moda Raya Terpadu. Adapun pengelolanya adalah PT Mass Rapid Transit Jakarta
Seperti dilansir situs resmi MRT Jakarta, PT Mass Rapid Transit Jakarta merupakan perusahaan berbentuk badan hukum perseroan terbatas di mana mayoritas sahamnya milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Perusahaan ini berdiri pada 17 Juni 2008 dengan tujuan pengusahaan dan pembangunan sarana dan prasarana MRT, pengoperasian dan perawatan (operation and maintenance/O&M) prasarana dan sarana MRT, serta pengembangan dan pengelolaan properti/bisnis di stasiun dan kawasan sekitarnya, serta Depo dan kawasan sekitarnya (detikNews 01 Okt 2021, 14.57).
Selama tinggal di Bekasi dua tahun lebih, sudah tiga kali kami ke GBK. Nah, naik MRT inilah yang ketiga. Dua kali sebelumnya naik mobil. Hari itu tanggal 30 Januari 2022. Tanggal 29 malamnya, aku dan suami menyusun rencana rute mana saja yang kami lalui. Awalnya kami berencana, untuk naik angkutan umum dari rumah, menuju stasiun Lebak Bulus. Niatnya sekalian bawa anak anak. Ternyata rutenya jauh, sekitar 17 km dari rumah, akhirnya opsi dikembalikan ke awal. Kami ke stasiun Lebak Bulus naik mobil, lalu naik MRT dari stasiun MRT Lebak Bulus.
Kenapa kami memilih stasiun MRT Lebak Bulus? Karena ternyata, dari beberapa parkiran mobil terdekat ke stasiun MRT, yang buka dan tutup lebih lama di masa pandemi, ya parkiran mobil Lebak Bulus ini. Namanya tinggal di Ibukota, jadi sebelum kemana-mana wajib searching dulu ya kan. Di sini kalau nyasar ga main-main. Mutarnya jauh dan tambah biaya. Poin terakhir yang paling penting, xixixi. Awalnya aku berpikir, dari parkiran mobil stasiun MRT Lebak Bulus, ke Lebak Bulus Grab itu, dekat. Ternyata harus jalan lagi sekitar lima menit. Gakpapalah jalan kaki. Hitung hitung olahraga.
Anak-anak excited waktu kami menunggu kedatangan MRT. Karena jujur ini pertama kali kami naik kereta api cepat. Pas kereta apinya sudah datang, aku semakin kagum. Sudah terbayang akan menulisnya di blogku karena moda transportasi yang dikelola badan usaha daerah DKI Jakarta ini, sebersih dan serapi itu. Sementara ini dulu tulisannya ya. Akan berlanjut di part 2 karena memang lumayan panjang.
Alhamdulillah pergantian tahun kali ini kami berkesempatan mudik ke Medan. Selama di kota Medan, kami juga mengunjungi Kampung Kelantan, desa yang terletak di kabupaten Langkat, Kecamatan Brandan Barat.
Desa ini unik, karena kita harus menyeberang laut untuk sampai ke sana. Terletak di pinggir laut, sebagian besar penduduknya adalah nelayan.
Ternyata daerah dengan nama Kampung Kelantan ini, tak cuma ada di provinsi Sumatera Utara. Daerah dengan nama sama, ada juga di Malaysia. Semisal Kelantan, dan Perlis. Tidak hanya itu, masyarakatnya juga berdialek sama.
Tipologi pelaut itu tangguh. Jika air yang berombak saja dia bisa lalui, apalagi daratan yang datar, kan? Jadi jangan heran kalau nanti anak-anak yang tumbuh di sekitar laut, apapun profesinya, juga tangguh. Beberapa yang kukenal, termasuk suamiku sendiri yang besar di dekat laut, Alhamdulillah adalah orang yang selalu berjuang untuk cita-citanya.
Di Kampung Kelantan, ada sebuah musholla bernama Al Hasanah. Memulai perjalanan menuju mushola Al Hasanah, kami harus menaiki sampan untuk menyeberang laut. Ongkos naik sampan, dua ribu lima ratus rupiah per orang. Tapi kami ramai. Ada delapan orang terdiri dari empat dewasa dan empat anak, maka kami menyewa sampan untuk pulang balik, dengan tarif enam puluh ribu rupiah. Tak jauh dari pinggir laut, naik sampan sekitar duapuluh menit sudah sampai tujuan. Itupun sudah pakai acara selfie.
Begitu sampai dipinggir laut, aku berdebar. Secara, aku tidak bisa berenang. Di sampan itu, dari delapan orang penumpang, hanya aku dan seorang balita, yang tak bisa berenang. Berdebar rasa hati. Mana dari sampan, harus naik tangga lagi ke daratan. Tangganya kecil. Dulu aku suka meremehkan kalau ada yang bilang tak berani naik sampan. ternyata begini rasanya. Memang uji nyali. Jadi pelajaran supaya tidak ngebully orang, wkwkwk.
Akhirnya curhatlah aku ke bapak pengayuh sampan. Eh kata sesebapak. “Tenang Bu. Itu yang semua lagi duduk-duduk di pinggir, akan menolong Ibu kalau sampai Ibu kecebur.”
Kulirik orang-orang yang sedang duduk di pinggir laut. Ada yang melihat HP. Ada yang sedang merokok diiringi angin sepoi-sepoi. Ada yang lagi mengobrol. Mereka sedang bersantai. Me time kalau istilah Emak Milenial. Kasihan juga kalau me time mereka terganggu.
Akhirnya kulirik Ayang Beb alias bapaknya anak anak. Kusuruh dia naik duluan ke daratan. Lalu dia tarik aku dari sampan ke tangga atas. Kutatap dia dengan mata gombal penuh kode dan hidung naik sebelah plus mata gerak ke kanan ke kiri. Aku seolah berkata, “Pegang Aku erat ya Bang. Kalok sampai basah bajuku, tidur di teras aja Abang sama Meong. Jangan kalau shopping aja Abang genggam tanganku kencang.”
Suamiku sepertinya mengerti. Digenggamnya tanganku sambil mengelus dada.
Setelah kami semua tiba di daratan Kampung Kelantan, Bapak Sampan menunggu. Hari sudah Magrib, sekalian kami sholat di kampung Kelantan. Menuju mushola, kami menutup jalan kecil yang di kanannya, ada rumah warga. Tak banyak warga di sana. Ada tigapuluhan rumah, Di belakang ada rawa. Seorang bapak tua menegur kami ramah.
“Ada telekung Kalian?” tanya bapak itu.
“Enggak ada, Pak,” jawabku. Di Sumatera Utara, telekung artinya mukena.
Itulah perempuan ya kan? Bawa lipstik ingat. Giliran mukena, lupa. Tepok jidat ah!
“Perlu berapa? Satu atau dua?” tanya Bapak itu lagi.
“Satu saja, Pak.” jawab Kakakku.
“Sebentar Saya ambil ke rumah ya?” Bapak itu pun ke rumahnya yang dekat dari Mushola.
“Ya Pak. Terima kasih."
Alhamdulillah akhirnya kami bisa sholat dengan mukena secara bergantian.
Memang cocok kami ke sana sore hari. Kami bisa kenalan dengan warga sekitar. Melihat mereka mengupas kepiting rebus dan memisah daging dari cangkang. Kami juga menikmati suasana laut senja hari. Sempat aku bertanya ke Bapak pengayuh sampan. Apa di sini ada sekolah? katanya ada.
Konon, kampung Kelantan ini, berpasangan dengan Kampung Perlis, juga masih di Brandan, adalah Malaysia kecil. Tapi ada juga yang menyebut, Perlis itu, ya Kampung Kelantan ini.
Nah, satu kenyataan yang menarik adalah, kata Ibu mertua yang dari kecil sudah tinggal di Brandan, Kampung Kelantan sudah ada sejak Ibu kecil. Jadi yang tinggal di sana, sudah turun-temurun.
Alhamdulillah mudik kali ini bisa mengunjungi tempat-tempat baru. Buat teman-teman di daerah Sumatra yang ingin merasakan naik sampan, melihat sunset, sekaligus datang mushola Al Hasanah yang indah, bisa datang ke Kampung Kelantan. Beribadahnya dapat. Wisatanya dapat.
Ternyata berwisata tak perlu jauh-jauh. Mungkin teman-teman juga ada objek wisata dekat rumah? Cerita yuk!