Showing posts with label Hijrah

Awal Kenal Kajian Sunnah Part 2

in , by Rizka Amita Ridwan, September 20, 2021

 












Melanjutkan tulisan sebelumnya, tentang awal kami kenal kajian Sunnah. Jadi tak lama setelah aku mengaji di Lampung, suamiku dimutasi ke Makassar. Aku yang sempat galau, akankah pengajian ini berlanjut, akhirnya berdoa. Ya Allah, aku ridho dengan kepindahan ini. Tapi kumohon berikan kami lingkungan yang baik. Anak anakku semoga dapat sekolah yang baik. Menaiki pesawat Subuh hari meninggalkan kota Lampung terasa berat. Kutahan rasa di dada. 

Baca juga : Awal Kenal Kajian Sunnah Part 1

Hari itu, kembali baju dan  rok jeans A line  yang kupakai. Rok satu satunya. Sebenarnya bajuku banyak, tapi kebanyakan celana. Saat ini aku berusaha lebih sering pakai rok. Mau beli baju baru terasa tanggung. Nanti setelah urusan pindah selesai, akan kubeli rok dua atau tiga lagi. 

Bersama suami, aku membawa dua balita dan barang yang banyak (saat itu belum berlaku bayar bagasi jadi kami dapat duapuluh lima kg bagasi per orang. Total empat orang, dapat bagasi seratus kg). Barang yang kubawa lumayan banyak. Betul betul mirip pindahan. Biasanya orang pindahan pakai pick up, kali ini kami naik pesawat. Barang barang yang kubawa antara lain, dua kasur single bed, sudah di-wrapping untuk masuk bagasi. Ada rice cooker, baju dua koper besar, dan alat masak  sekardus. Sampai sampai petugas bandara tahu, "Ini mau pindah ya, Pak?" 
"Iya," jawab suamiku.

Dua kali transit capek juga. Dari Lampung ke Jakarta, lalu Jakarta ke Makassar. Di Makassar kami tinggal di dua hari di hotel, sebulan di kos an, sampai akhirnya sewa rumah. Kata suamiku rumah yang kami sewa, bakal dekat ke sekolah anak. Aku bingung. Kok bisa suamiku langsung daftar sekolah anak, tanpa kasitahu istrinya. Kesal mode, ON.

Walau awalnya curiga,  aku justru jatuh cinta di pandangan pertama, saat mendatangi sekolah anakku. Alhamdulillah dapat sekolah Sunnah. Gurunya bercadar semua. Kelas perempuan dan laki-laki dipisah bahkan sejak kelas satu. Masyaa Allah Tabarakallah, kebimbanganku dijawab tuntas oleh Allah disini. Allah dengar doaku, Alhamdulillah. 

Di sekolah ini, orangtua murid dikoordinir supaya ikut kajian bulanan. Di kajian bulanan itu, kami diarahkan lagi, mengikuti liqo yang anggotanya lebih sedikit, sekitar delapan orang. 

Jangan dipikir orang yang ikut pengajian itu, sudah alim semua. Kalau perempuan kan paling mudah dilihat dari pakaian ya. Nah, temanku ada yang harinya sudah gamisan kemana mana. Ada juga yang kalau ke sekolah anak, jilbab lebar, kalau kerja jilbab lilit. Yang hobi selfie juga ada. Ya begitulah. Apapun keadaan kami, kami datang kajian. Jangankan orangtua murid, bahkan OB sekolah dan Ibu Ibu sekitar yang bekerja sebagai ART  di komplek dekat sekolah, ikut kajian. 

Alhamdulillah rumah kami agak besar.  Ada halaman depan yang bisa ditaruh jemuran dan pot bunga. Rumah itu dekat kantor. Semua bagus. Satu satunya masalah adalah, rumah itu bocor parah bila hujan.

Bukan hujan biasa.  Musim hujan deras bisa mulai pagi selesai siang, atau siang selesai sore. Rumah itu setahun tak dihuni dan saluran air di atap tertutup daun daun. Jika hujan deras, ada satu asbes dapur bocor dan mengucurkan air dalam setengah jam, bisa sampai satu ember besar. Hujan satu jam saja, sudah dua ember. Apalagi kalau hujan dari pagi ke siang. 

Seminggu pertama, ini adalah cobaan bagi wanita tidak setrong sepertiku. Kalau hujannya malam, ada suami yang membuang air itu. Kalau hujannya siang, aku sendiri dirumah dengan anak usia sekolah dua orang. Tiap hari sepulang antar anak dua orang, jam delapan pagi, hujan deras. Bajuku basah semua. Itu masih tunik panjang dan celana. 

Hujan tetap melanda. Dan air bocoran masih rajin masuk kerumah kami. Jujur aku takut kalau sampai banjir serumah. Daerah belakang rumah kami malah, kalau banjir sampai sepinggang. Yang kuingat saat itu,  saking derasnya hujan,  air naik dan deras sekali di bawah Jembatan Kembar, kota Makassar. Menjadi semakin sedih karena ada juga warga hanyut terbawa air. Bahkan rumah ikut dibawa air.
 
Jadi selain urus rumah, kerjaku juga membuangi air. Siaga jika air meluap. Kami sempat hubungi pemilik rumah tapi tukang baru ada minggu depan. Anehnya, ditengah adaptasi kami baru pindah, hujan deras, urusan rumah,  dan resiko air bocor berember-ember tadi, tak tahu kenapa, timbul keinginanku untuk pakai hijab syari. Padahal  situasi sedang sulit, kok mau pakai baju yang repot? Begitu kata hatiku yang lain. Pakai yang ringkas saja kenapa?
 
Ini seperti pertentangan batin. Kutahu, sekali aku pakai hijab syar'i,  maka seterusnya harus kupakai. Sementara hari hariku antar jemput dua anak kadang bawa anak ke klinik yang lumayan jauh dari rumah, naik motor. Yang kubayangkan betapa repotnya kemana mana pakai jilbab besar.

Tapi sudahlah. Dipikir pikir malah ujungnya menunda. Kucari baju gamis yang kloknya tak lebar.  Jilbab yang tak terlalu besar. Dan kaus kaki. Ritmenya begini. Pagi antar anak pakai gamis. Pulang dari antar anak biasanya hujan deras, baju basah sampai kedalam. Aku langsung ganti baju. Jam sebelas antar makan siang sekaligus jemput anak kedua. Pulangnya...bajuku  basah. Ganti lagi. Rumahku dekat sekolah jadi aku lebih baik bolak balik toh dirumah banyak kerjaan. Jam satunya, berangkat lagi jemput si Kakak. Pulang jemput si Kakak ada hujan lagi. Bajuku basah lagi. Saat itu kami belum punya jas hujan. Mau kubeli tapi nanggung karena barang barangku termasuk jas hujan, sedang otw Makassar naik kargo. Jas hujan lama punyaku, masih bagus. Pikirku daripada beli baru tapi tak bagus lebih baik kutunggu yang bagus. Anehnya lagi...jas hujan sendiri tak kubawa ke Makassar. Tapi jas hujan anakku, kubawa. Ibu Ibu mah gitu. Barang anak dia ingat. Barang sendiri malah lupa. 

Jadi dalam sehari, aku bisa tiga kali ganti gamis. Ingin jadi baik disituasi ini, membuatku terharu. Banjir dimana mana dan banyak korban,  menimbulkan rasa betapa kecilnya aku.  Betapa lemahnya aku. Jadi sambil ambil gamis, ambil kaus kaki, itu aku menangis lagi. Ya Allah kalau memang aku harus jadi baik sekarang, merangkak jadi baik di situasi begini, aku ridho. Memakai kaus kaki sementara kita tahu akan basah kuyup itu rasanya sesuatu. 

Semua mengalir begitu saja.  Mendung sepanjang hari dari pagi ke pagi, datangnya hujan tak bisa diduga. Hari ketiga aku mulai berdoa. Ya Allah aku tidak kuat. Kutahu hujan-Mu rezeki. Tapi...kumohon kalau sudah dekat jam jemput anakku, tolong hentikan hujan ini sebentar saja. Setidaknya sempat kujemput anakku.

Apa yang terjadi setelahnya sodara sodara? Masyaa Allah, hujan yang tadinya lebat, berangsur berhenti. Setelah pakai gamis, jilbab dan kaus kaki, aku  bergegas. Di motor sepanjang jalan lagi lagi aku makin terharu. Ya Allah, banyak sekali kau kabulkan doaku. Aku jadi malu. Semakin terasa kalau diri ini hamba yang lemah. Dulu kuheran melihat teman yang suka nangis kalau ingat dosa. Lihatlah, sekarang aku yang mudah menangis. 

Ada satu momen dimana aku usai jemur pakaian di teras tanpa kanopi, langsung pergi jemput anak, pas pulang malah hujan deras. Tapi kuheran , kenapa jemuranku sudah diangkat? Ternyata tetanggaku WA. Katanya Nenek di seberang rumahku yang angkatkan. Masyaa Allah. Padahal aku belum kenal Nenek itu. Tapi dengan baiknya dia angkatkan jemuranku keteras dalam. Siapa lagi yang menggerakkan Nenek itu untuk angkat jemuranku, kalau bukan Allah? Esok paginya kudatangi Nenek itu dan mengucapkan terimakasih. 

Usai di WA tetanggaku, buru buru kuganti gamis yang basah semua, kembali aku terharu. Terlalu banyak isyarat yang Allah kirim padaku sejak aku meminta hidayah, sejak aku meminta sekolah yang bisa membantu kami mendidik anak anak kami. Bahkan di komplek tempat tinggalku ada mesjid besarnya yang aktif adakan kajian. Allah jawab semua doaku, tuntas. 

Terus terang aku masih bingung, kenapa dengan diriku? Ingat dosa, nangis. Ingat anak, nangis, ingat suami, nangis. Merasa kurang tapi tak tahu apa yang kurang.  Alhamdulillah kehidupan kami baik. 

Selain ikut kajian, kusempatkan juga mendengar radio dakwah, disambi masak dan beberes. Sampai akhirnya kudengar dari seorang Ustad. Perasaan mudah terharu itu, karena Allah sedang perhatikan kita. Allah ingin kita lebih dekat kepada-Nya. Siapapun yang mendapati perasaan seperti ini, seharusnya bersyukur. Disebut juga hidayah. Hidayah yang datang karena diminta. Bukan hidayah yang datang tiba tiba.

Lalu apa yang ingin kusampaikan? Ini dia. Tentang hidayah. Pasti ada, momen dimana kita merasa lemah, mudah menangis mengingat dosa. Tapi perlu diingat, mudah menangis saat melihat isi dompet, itu bukan hidayah ya, hihihi.

Nah...momen saat mudah menangis itu, jangan dilewatkan. Hidayah itu barang yang muaahal. Tapi hidayah juga datang bukan jatuh dari langit. Dia datang karena diminta. Kita sholat minimal lima kali dalam sehari. Membaca Al Fatihah minimal tujuhbelas kali sehari. Maka minimal tujuhbelas kali juga kita meminta hidayah. Buktinya tiap sholat kita ucapkan surat Al Fatihah ayat enam, meminta ditunjukkan jalan yang lurus.

Mungkin ada di antara kita, mau berjilbab syari terasa sulit, mau sholat lima waktu, tak bisa bisa. Mungkin hari ini kita berada di posisi terbawah hidup kita. Miskin, diputusin pacar, dipecat kerja, batal nikah, malas sholat, usaha bangkrut,  banyak hutang, tak bisa lepas dari film bokep,  rumah tangga hancur, galau, ingin bunuh diri  Tak ada tempat meminta tolong karena semua teman menjauh. Mungkin ada saat ini, walau kita sering buat dosa, makan harta haram, bahkan sampai berzina, masih ada hati kecil yang bilang itu salah dan kita menangis karena mengingatnya.

Bisa jadi itu tanda Allah sedang perhatikan kita. Dibuat-Nya kita menangis karena mengingat dosa. Dibuat-Nya kita menangis karena kita merasa lemah. Nah, momen seperti ini jangan diabaikan. Tapi diterima.

Ah, cuma begitu doang  ditulis? Ya kali mati masih lama. Kalau ada yang bilang begitu, cuekin saja. Seperti apapun kita hari ini, ketika menangis mengingat dosa kita, ingatlah ada Zat Maha Pengasih yang akan selalu menerima kita. Jangan merasa kotor untuk menerima hidayah. Jangan pernah merasa malu untuk meminta hidayah, untuk mencari ilmu, mendatangi kajian. Ayo kita cari. Jangan pasrah.

Tapi kok sulit? Yang penting kita berdoa. Nanti ada jalannya. Doanya yang rajin, jangan bolong bolong. Ingat kan? Kisah wanita yang berzina, sampai hamil, lalu mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk minta dilaksanakan hukum had kepadanya? Itu bukti bahwa siapapun punya hak menjadi baik.

Tak ada yang melarang preman ikut kajian. Tak ada yang boleh menolak, PSK datang kajian.  Tinggal bajunya saja pakai yang sopan. Tak ada yang berhak mengusir, pelaku riba datang kajian. Kecuali kita bicara kita siapa, maka orang tahu. Kalau kita tak bicara, orang tak akan dan tak perlu tahu.

Siapapun berhak mendapat hidayah. Langkah awalnya apa? Memperhatikan isyarat halus tadi yang Allah kirim ke kita. Bentuk awal hidayah macam macam sesuai keadaan tiap orang yang berbeda. Kalau kami yang IRT ini, maka awal tanda hidayah tadipun, tak jauh jauh dari aktivitas rumah tangga. 

Mau kan meminta hidayah? Selagi nyawa masih dibadan, masih ada kesempatan. Lebih baik jadi penjahat yang berakhir jadi orang sholeh daripada orang sholeh yang akhir hidupnya jadi penghuni neraka. Hijrah itu mudah dan gratis. Ampunan Allah Maha Luas. Godaan yang mengatakan bahwa kita terlalu banyak dosa jadi sia sia bertobat, itu godaan setan. Godaan yang bilang 'urus urusanmu sendiri' dan tak mau diingatkan, itu bukan sikap kita. Ditegur manusia didunia walau sakit, masih lebih ringan daripada ditegur malaikat di alam kubur. Mau berubah jadi baik? Pasti mau ya.


Bekasi, 10 September 2020
Rizka Amita, Ibu dua anak yang banyak kurangnya.
Penulis buku 'Yes, You Can. Diary ASI Ibu  Baru dan Perjuangan Menghadapi Babyblues.' Bitread 2017.

Mari Banyak Bersabar

in , by Rizka Amita Ridwan, September 07, 2021

 



Dulu....seorang sahabat yang tengah disiksa para Quraisy Mekah, mengadu pada Rasulullah SAW. "Duhai Rasulullah, mintalah pada Allah, agar meringankan beban kaum muslimin yang ramai mendapat penyiksaan."
Apa kata Rasulullah? Mereka disuruh bersabar.
Sabar yang sulit. Sangat sulit.

Kondisi kita hari ini gak ada apa apanya dengan para sahabat.
Diminta pun bersabar mengajari anak dirumah, tak sampai sabar yang sama.

Gakpapa merasa lemah.
Ada Allah tempat mengadu.
Tapi jangan merasa menderita cuma kita yang punya anak harus SFH.
Sulit mengajari anak dirumah...dijalani saja.

Selama makan masih cukup.
Rumah ada tempat berlindung 
Bisa beribadah
Suami sehat, anak sehat
Kuota masih ada 
Tak perlu keluar rumah

Mari banyak banyak bersabar, banyak bersabar.
Karena hari ini...banyak orang yang ingin ada diposisi kita, tapi tak bisa🥺

Awal Kenal Kajian Sunnah Part 1

in , by Rizka Amita Ridwan, September 03, 2021


































Saat itu tahun duaribulimabelas. Didorong rasa ingin tahu, aku beranikan diri untuk mengaji. Tepatnya mencari pengajian. Penampilanku sehari hari masih celana panjang, baju kaos sepaha atau selutut . Jilbab Alhamdulillah selalu menutup dada. Walau tak panjang panjang amat. Bertahun sebelumnya, aku juga sering berdoa, Ya Allah, pertemukan aku dengan teman teman yang baik, teman yang membimbingku, dan mau menegurku jika salah. Melihat perkembangan zaman dan umur yang semakin tua, juga sudah punya anak, rasanya aku butuh pengajian. Dulu waktu kuliah, aku sempat ikut kajian. Berhenti setelah bekerja. Dan kini mencari lagi. 

Tahun 2015, dorongan mengaji semakin kuat. Bertepatan di depan rumahku ada mesjid yang sesekali ada pengajian ibu ibu bercadar. Aku tidak tahu nama pengajiannya apa. Tapi setiap melihat mereka, Masyaa Allah, aku iri sekali. Dalam hatiku, kapan aku bisa? Begitu ingin seperti mereka. Tapi selalu ada bisikan dalam hati yang berkata. Hei, mundur saja, nanti kamu malu. Nanti kamu dicuekin. Nanti kamu tak diterima. Bajumu saja warna warni, celana jeans, tak pantas ikut kajian. Kutahu itu bisikan setan, yang melemahkan. Jika itu kuturuti, sampai kapanpun aku tak mengaji. 

Bisikan sejenis juga pernah dialami Abu Sufyan . Dalam perang Badar, Abu Sufyan melihat banyak sekali orang berbaju putih menaiki kuda hitam belang putih, menyerbu antara langit dan bumi, tidak menyerupai sesuatu apapun, dan tidak terhalang oleh apapun. Abu Sufyan hampir memeluk Islam karena kejadian ini. Tapi ada bisikan di hatinya yang menyatakan, jangan masuk Islam. Alhamdulillah di akhir hayatnya, ia yang memusuhi keras pada Rasulullah SAW, menjadi muslim dan sangat mencintai Nabi. Masyaa Allah.  

Ada juga kisah penyair Quraisy ( aku lupa siapa namanya), yang menunda masuk Islam, karena pengaruh orang orang. Kata orang, di Islam tak boleh minum khamr, tak boleh mabuk. Akhirnya si penyair yang suka minum khamr, tak pernah masuk Islam sampai wafatnya. Jadi teman teman, bisikan yang mengatakan kita penuh dosa dan tak pantas, belum saatnya hijrah, jangan dituruti. Begitu halus cara setan menggoda, membuat kita menunda. Naudzubillah Min Dzalik.

Kembali ke ceritaku ya. Awalnya kuberanikan diri bertanya pada seorang ibu ibu bercadar. ”Assalamu’alaikum Bu.” Saat itu aku baru pulang joging dengan kostum celana training dan atasan baju kaos. Ibu ibu itu duduk di teras masjid dengan anaknya. 

“Wa’alaikumsalam. Ada apa Mbak.”

“Bu. Ini acara apa? Pengajian umum ya?” 

Ibu itu melihatku dari atas ke bawah. Tapi aku tak peduli. Sudah kepalang maju, tak boleh mundur.

“Oh, bukan Mbak. Ini acara orangtua murid sekolah tahfidz kami.”

Aku sudah paham dengan ucapan ibu itu. Selanjutnya kutanyakan hal lain, sambil mendekat ke arahnya. Kupelankan volume suaraku, “Bu. Saya mau mengaji. Ibu tahu dimana tempat Saya bisa mengaji? Kalau bisa yang pemula Bu. Soalnya aku ya…begini,” tak tahu kok bisa kalimatku selancar ini. Padahal tadi aku ketakutan.

“Alhamdulillah. Mbak mau mengaji? Mata si Ibu bercadar berbinar. Selanjutnya dia memanggil temannya. Sekitar tiga orang mendekatiku. Singkat cerita,  aku dapat info tempat mengaji dekat rumah. Sebenarnya tak dekat juga, sekitar sepuluh menit naik motor. Setelah itu aku pulang kerumah.

Sampai rumah langsung kuceritakan ke suami, kalau aku akan ikut kajian. Alhamdulillah suamiku mendukung. “Ya udah Dek, nanti kalau Adek pergi kajian, anak anak ditinggal dirumah saja. Supaya Adek fokus. 

Tak langsung juga aku pergi kajian. Kadang anak sakit, kadang ada acara kantor suamiku. Jadi aku baru bisa kajian dua bulan setelah pertemuan dengan ibu ibu di mesjid tadi.

Sampailah hari-H aku berangkat kajian. Saat itu aku cuma punya satu rok jeans model A-line. Tak sempit, tak longgar. Pakai atasan kemeja dan jilbab instan menutup dada. 

Masyaa Allah. Rasa hati mengharu biru, tak terlukis kata kata. Akhirnya aku datang ke kajian yang kuimpikan sejak lama. Bukannya pengajian pemula, pengajian yang kudatangi ternyata kajian gabungan. Ada lima puluh akhwat yang lebih setengahnya bercadar. Bajunya sama. Hitam, gelap, longgar. Aku satu satunya yang pakai baju warna cerah, jeans pula. Karena terlalu senang, aku baru sadar kalau tadi aku salah parkir motor. Aku parkir motor di tempat ikhwan, saudara saudara. Untunglah saat itu kajian sudah dimulai jadi tak ada yang menegurku, hahaha! Karena itu tempat terdekat ke gerbang, kupikir bebas parkir disitu. Ternyata parkirpun dipisah. Awal datang aku disalami. Mereka juga membuka cadarnya jadi aku bisa tahu wajahnya. Mereka mengajakku sesekali bicara, disela sela kajian yang dibatasi tirai. 

Jujur perdana kajian itu, aku tidak fokus dengan materi. Yang kuingat, malaikat membentangkan sayapnya, dan mendoakan serta memintakan ampun,  bagi orang orang yang duduk di majelis taklim. Kubayangkan ada malaikat juga disana. Mereka bisa melihatku tapi aku tak bisa melihatnya. Semoga malaikat mendoakanku yang baru hijrah dan berusaha melawan rasa takut ini, Aamiin. 

Kajian selesai dalam dua jam. Setelah salam dan cipika cipiki, aku bergegas pulang. Kukatakan ke teman karena aku punya balita dua dirumah. Padahal bukan itu alasan aku segera pulang. Aku ingin menangis sepuasnya. Air mata kebahagiaan karena akhirnya aku ikut kajian dengan mengalahkan rasa takutku. Bergegas kuambil motor dari parkiran , lalu berhenti sebentar di gerbang mesjid, untuk mengeluarkan air mata yang sudah tertahan dari tadi. Ya Allah, mudahkanlah aku mendekati-Mu, aku ingin jadi ibu yang baik, yang bisa jadi contoh bagi anak anakku. Merangkakpun akan kulakukan, dengan semua kurangku. 

Perihal air mata ini sedikit aneh. Hanya bisa muncul disatu saat tertentu. Tahun duaribulimabelas aku mudah terharu terutama jika sendiri dan mendengar ceramah, entah itu di yutub ataupun langsung. Mungkin ini namanya hidayah.

Minggu depannya, aku ikut kajian lagi. Beda dengan minggu lalu, kali ini anak anak kubawa. Kata suami anak disuruh dirumah saja. Aku malah tak fokus anak kutinggal. Akhwat lain kulihat bawa anak, ya aku ingin juga.

Karena bawa motor sambil bawa anak, aku pakai kostum celana jeans dan tunik selutut. Aku juga sudah tahu dimana tempat parkir motor, hehehe. Dan aku masih tak pede dengan kostumku yang beda sendiri. Tapi sudahlah pikirku, yang penting bajuku sopan. Alhamdulillah penerimaan mereka juga baik. Saat datang kedua dan seterusnya, tidak semua menegurku saat datang. Tak masalah. Aku datang karena aku butuh kajian. Orang tidak harus menyambutku. Jika ada bisikan aneh di hati, kutepis. Aku ingin jadi baik, titik.

Sempat dua bulan aku rutin kajian, sampai ada kabar, kalau suamiku akan mutasi ke Makassar. Aku sempat galau. Bagaimana dengan kajianku? Apa disana akan lanjut atau malah putus? Apa disana akan kudapat teman teman sebaik disini? Duh Allah, jikapun kami harus pindah, kami ridho. Tapi mohon dekatkan kami ke teman teman yang sholeh.

Alhamdulillah, kota Makassar sangat agamis, dan jadi kota hijrahku selanjutnya. Mau tahu kisah kami selanjutnya di Makassar? Insyaa Allah akan kutulis lagi di lain waktu ya.

Bekasi, 1 Agustus 2020
Rizka Amita
Penulis buku ‘Yes, You can. Diary ASI Ibu Baru dan Perjuangan Menghadapi Babyblues.
© Tempat Lihat Suka Suka · Designed by Sahabat Hosting